Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan saat mendesain kamar anak. Jika dilakukan dengan salah, kamar tersebut dapat terasa tidak nyaman dan kekanak-kanakan. Karena ia tidak selamanya kecil, desain kamar harus fleksibel agar orang tua tidak perlu mendekorasi dan menata ulang demi menyesuaikan dengan usianya. Kamar tidur anak harus nyaman, multifungsi, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan anak selama masa perkembangannya. –MegaBaja.co.id
Anak akan tumbuh cepat menjadi remaja dalam sekejap mata. Mendesain kamar anak, termasuk memilih furniture bisa menjadi tahapan paling menantang. Penting untuk mempertimbangkan masa depannya, bukan hanya saat ia kecil. Saat tumbuh dewasa, karakternya akan terbentuk perlahan dan mungkin saja preferensinya berubah. Orang tua pasti ingin anak tumbuh sambil mengekspresikan diri dengan bebas baik di rumah, khususnya kamarnya, ataupun di luar rumah.Untuk itu,mendesain kamar anak dengan tepat adalah salah satu cara yang bisa dilakukan.
Panduan Mendesain Kamar Anak untuk Jangka Panjang
Saat anak masih kecil, sulit untuk menahan godaan membeli tempat tidur yang lucu atau mengecat dinding dengan nuansa cerah. Namun, anak akan cepat tumbuh besar dan perlahan tidak menyukai desain ini. Jadi, penting untuk melihat ke depan dan berpikir jangka panjang. Buatlah desain yang fleksibel, sesuatu yang dapat diatur ulang hanya dengan beberapa langkah. Agar renovasi lebih mudah dikelola, berikut adalah beberapa tips sederhana tentang cara mendesain kamar tidur anak agar tetap relevan hingga ia remaja tanpa perlu renovasi besar:
1. Pertimbangkan Masa Kini dan Masa Depan Anak

Mempertimbangkan masa depan anak itu penting agar orang tua mengetahui furniture dan dekorasi apa yang harus digunakan dan apa yang harus diubah. Kuncinya adalah mengetahui kapan furniture itu perlu diganti seiring pertumbuhan anak. Dari menambahkan meja hingga meninggikan tempat tidur, penyesuaian desain akan berjalan lancar jika sudah menjadi bagian dari rencana awal.
2. Hindari Tema yang Intens
Tidak sedikit orang tua yang mengusung tema bajak laut, mobil balap, atau motif dongeng di kamar anak. Meskipun orang tua bisa memasukkan minat anak-anak dalam desain kamar, cobalah untuk tidak berlebihan, karena minat anak-anak cenderung cepat berubah. Pilihlah opsi yang lebih kalem dan bisa bertahan lama.
3. Jaga Elemen Desain Tetap Sederhana
Garis-garis yang bersih cocok untuk anak-anak dan remaja, termasuk dalam memilih furniture. Utamakan fungsi, bukan model-model lucu yang tidak akan sesuai lagi saat anak menginjak usia remaja. Buatlah ruang yang fungsional dan penuh dengan penyimpanan yang mudah diakses. Garis-garis yang bersih juga membuat kamar tidak terlihat kekanak-kanakan saat anak-anak bertambah besar. Gaya ini mendukung estetika yang tak lekang oleh waktu.
4. Kendalikan Warna Sambil Tetap Menawarkan Pilihan
Banyak kamar anak dengan warna yang begitu mencolok dan bisa membuat mata sakit saat melihatnya. Agar desain kamar tetap fleksibel, strategi yang ideal adalah membiarkan anak memilih warna kamar sambil tetap menerapkan batasan. Tentukan palet warna kamar dengan mempertimbangkan fungsi ruang dan preferensi anak. Untuk itu, anak harus berpartisipasi dalam proses pemilihan warna untuk kamarnya.
Orang tua biasanya tahu warna apa yang disukai anak. Jika warna favoritnya adalah merah, misalnya, orang tua bisa menyediakan serangkaian warna merah pada beberapa dekorasi. Warna-warna cerah yang tidak berlebihan akan cocok dipadukan dengan warna netral untuk menjaga kamar agar tidak terlalu kekanak-kanakan. Warna furniture yang netral dapat menjadi cara ideal untuk memberi ruang pada barang dengan warna favorit anak.
Warna favorit anak bisa diterapkan pada gorden, karpet, sprei, dan pajangan di kamar. Barang-barang tersebut dapat diganti dengan mudah seiring pertumbuhan anak tanpa perlu renovasi atau penyesuaian besar. Furniture dan desain ruangan yang netral secara keseluruhan menawarkan fleksibilitas saat akan dilakukan penggantian barang di kamar.
5. Jadikan Kamar yang Interaktif
Jika memungkinkan, cobalah untuk menyertakan furniture dan dekorasi kamar tidur yang melibatkan anak-anak dalam suatu aktivitas. Walau bagaimana pun, meski ingin desain kamar yang awet hingga anak remaja, orang tua perlu memberi ruang untuk anak agar bisa berkreasi sesuai usianya. Misalnya, buatlah lemari bercat kapur sebagai bagian pembelajaran interaktif. Lemari ini membantu anak untuk beralih dari gambar ke huruf dan menumbuhkan kemandirian dalam berpakaian. Ketika anak bertambah besar, orang tua dapat mengecat ulang lemari tersebut.
6. Pindahkan Area Belajar ke Tempat Lain
Banyak orang tua yang menyatukan kamar tidur dengan area belajar anak. Misalnya, ada meja belajar di sudut ruang dengan rak buku dan mainan. Namun, seiring tumbuhnya anak, kamar tidur dengan keterbatasan ruang akan terasa lebih sempit. Untuk itu, pindahkan meja belajar dari kamar tidur ke area lain di rumah seperti sudut ruang keluarga atau tempat yang masih tersedia. Tanpa adanya area belajar, kamar bisa digunakan untuk berbagi ruang dengan kakak/adiknya.
7. Pilih Furniture Modular
Menggunakan furniture modular bisa memudahkan orang tua untuk mengubah ruangan sesuai keinginan seiring pertumbuhan anak-anak. Kamar yang menampung dua anak biasanya menggunakan tempat tidur susun, dan anak-anak kebanyakan menyukainya. Namun, remaja dan praremaja mungkin tidak menyukai konsep tersebut. Jika orang tua menggunakan jenis tempat tidur ini, ubahlah tempat tidur tersebut menjadi model biasa yang terpisah. Hal ini akan mudah dilakukan pada tempat tidur susun modular. Dengan begitu, orang tua tidak perlu mencari furniture baru di tahun-tahun berikutnya.
8. Gunakan Furnitur Multifungsi

Selain furniture modular, furniture multifungsi juga bisa dipertimbangkan untuk disertakan dalam kamar anak. Jenis yang banyak digunakan adalah furnitur yang memiliki komponen geser seperti laci penyimpanan di bawah kasur atau di bawah meja. Karena berfokus pada efisiensi ruang, jenis furniture ini paling cocok jika ruang kamar anak terbatas.
8. Pertimbangkan Aktivitas Anak di Kamar
Ada beberapa cara untuk membuat jenis furniture remaja tetap ideal digunakan anak kecil. Jika anak suka menggambar, orang tua dapat mempertimbangkan untuk memberinya meja dan menggunakan kursi dengan roda daripada meletakkan meja bermain di dalam kamar. Meja ini bisa menjadi ruang belajar saat anak tumbuh besar.
9. Manfaatkan Dinding untuk Dekorasi
Mirip dengan penggunaan furniture multifungsi, area dinding yang masih kosong juga bisa digunakan untuk menambah kapasitas penyimpanan. Bahkan, dinding bisa menghilangkan kebutuhan akan lemari penyimpanan konvensional. Menggunakan ruang dinding dengan ambalan dapat memudahkan anak untuk mengatur buku atau menemukan mainan.
Pertimbangkan juga menggunakan ruang dinding untuk permainan interaktif. Misalnya, orang tua bisa merancang papan pelat dasar lego yang bisa dilepas. Konsep dinding Lego menjaga ruang tersebut tetap fleksibel untuk masa mendatang. Papan bisa dipindahkan ke lantai untuk permainan Lego dan kemudian dengan mudah digantung kembali. Dinding kosong juga bisa dimanfaatkan untuk galeri foto yang mudah diubah di kemudian hari.
10. Berikan Ciri Khas Kamar Anak

Mendesain kamar tidur anak yang fleksibel hingga usianya remaja bukan berarti melarangnya untuk berkreasi. Jangan mengharapkan anak-anak menjadi orang dewasa mini dan mengharuskan mereka mengikuti gaya desain orang dewasa. Untuk itu, berikan kamar yang mendorong pertumbuhan kreatif, fisik, dan spiritual. Jadi, pastikan untuk menyertakan sesuatu yang sesuai untuk usianya.
Itulah beberapa tips jika orang tua ingin kamar anak yang berusia masih kecil tetap ideal untuknya ketika remaja. Memilih furniture, konsep desain, hingga warna-warna yang digunakan sangat berpengaruh pada visual keseluruhan kamar anak. Sekali lagi, pastikan untuk mempertimbangkan preferensi anak agar ia nyaman di kamarnya sendiri.


















Leave a Reply