Kayu kerap dimanfaatkan untuk furniture dan berbagai produk lainnya, namun mudah mengalami kerusakan jika tidak dirawat dengan benar. Karena itu, perlu teknik pengawetan yang tepat agar kayu lebih tahan terhadap serangan rayap dan jamur. -MegaBaja.co.id
Karakteristik fisik, mekanik, dan kandungan kimia pada setiap jenis kayu berbeda-beda. Perbedaan inilah yang turut mempengaruhi tingkat keawetan kayu. Oleh karena itu, teknik pengawetan sering dilakukan untuk memperpanjang umur pakainya.
Seiring berjalannya waktu, beragam metode pengawetan kayu telah berkembang. Mulai dari cara tradisional seperti perendaman hingga teknologi modern seperti sistem vakum, yang masing-masing memiliki kelebihan tersendiri.
Lalu, metode mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu? Dalam artikel ini akan dibahas secara menyeluruh. Untuk itu, baca hingga tuntas agar kamu tidak melewatkan informasi pentingnya, ya!
Teknik Pengawetan Kayu agar Tahan Rayap dan Jamur
Memilih material kayu yang tahan lama akan membantu memastikan furniture, konstruksi bangunan, atau berbagai produk berbahan kayu tetap kuat dan awet. Kuncinya ada pada metode pengawetan kayu yang digunakan. Berikut adalah beberapa metode pengawetan kayu yang umum diterapkan:
Metode Perendaman
Pertama ada teknik perendaman yang merupakan salah satu metode alami paling ampuh dalam mengawetkan kayu. Proses ini dilakukan dengan merendam dulu kayu balok atau gelondongan di aliran sungai, yang mana ini terbukti mampu meningkatkan kualitas sekaligus ketahanan kayu. Tujuan dari perendaman adalah supaya kayu menyerap air, yang kemudian mendorong keluarnya zat-zat ekstraktif yang larut dalam air. Seperti nitrogen, glukosida, tanan, dan pigmen warna kayu.
Sementara itu, zat ekstraktif yang tidak larut, seperti pati, akan tetap berada di dalam pori-pori kayu. Zat-zat yang larut ini akan mengubah kondisi air di sekitar kayu dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme seperti Bacillus subtilis, Bacillus mesentericus, Lactobacillus sp., serta Staphylococcus sp. Mikroba ini akan menguraikan zat ekstraktif yang awalnya tidak larut, sehingga lama-kelamaan ikut terlarut juga. Proses alami ini dikenal dengan istilah fermentasi berantai.
Proses fermentasi berantai ini nantinya menghasilkan senyawa seperti asam organik, gas, dan alkohol, serta membantu menurunkan kadar air dalam kayu. Selain itu, kandungan pati yang menjadi sumber makanan bagi hama seperti rayap juga ikut berkurang karena larut dalam air. Akibatnya, kayu menjadi lebih tahan terhadap serangan serangga karena tidak lagi menarik bagi mereka.
Namun, kelemahan dari metode ini adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu, teknik ini kurang efektif jika diterapkan pada kayu yang masih basah, karena kemampuan serapnya belum maksimal, sehingga larutan pengawet tidak bisa meresap dengan sempurna
Metode Pressure Treatment
Apabila poin sebelumnya secara tradisional, kali ini kita akan membahas teknik pengawetan secara modern menggunakan metode pressure treatment. Metode ini menggunakan teknologi ruang kedap udara (vakum) untuk mengeluarkan udara dari dalam pori-pori kayu. Setelah udara dikeluarkan, kayu kemudian diberi larutan pengawet agar bisa meresap secara maksimal ke dalam pori-porinya. Teknik ini sangat cocok untuk jenis kayu yang akan digunakan dalam kondisi ekstrem, seperti tiang listrik, jembatan, atau furniture luar ruang yang terpapar lingkungan pantai.
Proses pengawetan akan bekerja lebih efektif lagi jika diterapkan pada kayu yang telah melalui tahap pengeringan, karena kadar airnya sudah rendah. Dengan begitu, larutan pengawet akan masuk dan terserap lebih mudah ke dalam pori-pori kayu. Kelebihan dari metode ini adalah kemampuan larutan pengawet untuk meresap lebih dalam, sehingga memberikan perlindungan yang juga lebih tahan lama.
Metode Kuas

Jika kamu membutuhkan cara simpel untuk mengawetkan kayu dalam skala kecil, metode kuas ini bisa menjadi pilihan. Cara kerjanya mirip seperti mengecat, cukup oleskan bahan pengawet ke permukaan kayu dengan menggunakan kuas. Teknik ini biasanya digunakan sebagai perlindungan awal sebelum proses finishing dilakukan.
Metode ini hanya bisa diterapkan pada kayu yang sudah melalui proses kiln dry alias pengeringan oven. Pasalnya, kadar air yang rendah bikin bahan pengawet lebih mudah menyerap ke dalam kayu. Keunggulannya dari metode kuas adalah praktis karena tidak membutuhkan alat khusus, bahan pengawet yang dipakai juga cukup sedikit. Sayangnya, perlindungannya hanya terbatas di bagian permukaan, mirip seperti teknik semprot.
Jadi, sebaiknya gunakan teknik ini untuk kayu yang akan dipakai sebagai furniture di dalam ruangan, ya. Jika untuk kondisi ekstrem seperti luar ruangan, sebaiknya pilih metode lain yang lebih kuat perlindungannya.
Metode Penyemprotan
Teknik ini dilakukan dengan menyemprotkan larutan pengawet langsung ke permukaan kayu. Tujuannya adalah untuk menciptakan lapisan pelindung di bagian luar kayu, mirip seperti mengecat tapi dengan sedikit penyerapan ke dalam serat kayu. Kamu butuh alat semprot khusus agar cairan pengawet bisa tersebar dengan baik. Kelebihan dari metode ini adalah prosesnya yang cepat, simpel, dan tidak menguras biaya terlalu banyak.
Adapun, metode ini juga cocok dipakai untuk berbagai jenis kayu, terutama yang sudah dipotong dan dikeringkan. Tapi perlu diingat, perlindungan dari teknik ini tidak sampai ke dalam kayu karena hanya melapisi bagian luar. Jadi, sebaiknya gunakan cara ini untuk furniture dalam ruangan saja, ya.
Metode Pengasapan
Ingin mencari cara alami untuk mengawetkan kayu selain perendaman? Metode pengasapan ini bisa kamu pilih. Teknik ini memanfaatkan asap atau gas untuk membunuh hama seperti rayap atau jamur yang bisa merusak kayu. Dulu memang hanya menggunakan asap alami, tapi sekarang prosesnya juga bisa menggunakan bahan kimia seperti bromida, sulfur dioksida, atau formaldehida. Bahan-bahan ini terhitung cukup ampuh untuk membasmi organisme perusak tanpa merusak struktur kayunya.
Metode ini sendiri akan sangat cocok untuk kayu yang sudah terkena serangan hama, atau kalau kamu berencana untuk ekspor kayu ke negara dengan regulasi ketat soal perlakuan kayu. Gas yang digunakan bisa menembus sampai ke dalam kayu, jadi telur atau larva serangga pun bisa dibasmi sampai tuntas. Tapi karena melibatkan bahan kimia berbahaya, proses pengasapan ini harus dilakukan oleh tenaga profesional. Prosedur keamanannya juga ketat sekali agar tidak membahayakan manusia maupun lingkungan.
Metode Pengeringan
Terakhir ada metode pengeringan yang bertujuan agar jatuh tidak mudah diserang oleh jamur, rayap, atau mikroorganisme lainnya. Sebab, kayu yang masih basah atau mengandung banyak air rentan sekali mengalami pelapukan, retak, bahkan sampai jadi sarang jamur. Dengan mengurangi kadar airnya, kayu akan lebih stabil, kuat, dan tentu saja lebih tahan lama.
Ada dua cara umum yang kerap digunakan, yakni pengeringan alami dan kiln dry. Pengeringan alami dilakukan dengan cara menjemur kayu di area terbuka yang memiliki sirkulasi udara yang baik. Kayunya ditunjuk dengan rapi dan diberi jarak antar lapisannya agar udara bisa mengalir.

Tapi kalau ingin lebih cepat, bisa pakai metode kiln dry. Metode kiln dry yaitu pengeringan dalam oven khusus yang bisa mengatur suhu dan kelembapan. Dengan cara ini, prosesnya bisa selesai hanya dalam hitungan hari, jauh lebih singkat dibanding cara alami.
Itulah tadi enam metode pengawetan kayu, mulai dari cara tradisional hingga modern. Seiring waktu, bukan cuma tekniknya yang makin maju, tapi bahan pengawet kayunya juga ikut berkembang jadi lebih efektif. Kamu bisa memilih metode yang paling cocok sesuai kebutuhan, apakah itu untuk furniture, bangunan, atau keperluan lainnya. Semoga informasinya membantu dan selamat mencoba!


















Leave a Reply