Mengenal Plinth dan Perbedaannya dengan Skirting
Mengenal Plinth dan Perbedaannya dengan Skirting

Mengenal Plinth dan Apa Bedanya dengan Skirting?

Umumnya, hal-hal yang langsung menarik perhatian dari sebuah ruangna adalah elemen-elemen besar seperti warna dinding, tekstur lantai, atau pencahayaan yang menawan. Namun, ada satu detail kecil yang sering terlewat dari perhatian, yakni bagian bawah dinding yang berbatasan langsung dengan lantai. Di sanalah kamu akan menemukan elemen tipis yang melintang rapi di sepanjang sisi ruangan. Unsur tersebut bisa berupa plinth atau skirting. -MegaBaja.co.id

Keduanya tampak mirip secara sekilas, sehingga banyak orang sering menyebutnya dengan istilah yang sama. Padahal, dari sisi fungsi dan tampilan, plinth dan skirting punya perbedaan yang cukup mendasar. Lewat pembahasan ini, kamu bisa memahami apa itu plinth dan bagaimana perbedaannya dengan skirting. Yuk, simak!

Mengenal Plinth dan Skirting

Mengenal Plinth dan Skirting

Dalam dunia arsitektur, istilah plinth atau plint memiliki makna yang cukup luas. Secara tradisional, plinth merujuk pada bagian dasar dari suatu struktur seperti pilar, patung, atau dinding. Fungsinya adalah sebagai alas atau pondasi yang menopang elemen di atasnya. Dalam penerapannya di interior, plinth kini digunakan pada bagian bawah dinding dengan bentuk yang menyerupai skirting, namun tampil lebih sederhana dan memiliki fungsi yang lebih teknis.

Biasanya, plinth digunakan pada area yang membutuhkan ketahanan tinggi terhadap kelembapan dan frekuensi pembersihan. Misalnya dapur restoran, toilet umum, laboratorium, atau area servis gedung. Tujuannya untuk menjaga pertemuan antara lantai dan dinding agar tetap bersih, terlindungi dari kotoran, serta tahan lama terhadap aktivitas harian yang padat. Dengan desainnya yang rata dan minimalis, plinth memberi kesan rapi sekaligus praktis dalam perawatan.

Sementara itu, skirting atau skirting board merupakan papan atau lis yang dipasang di bagian bawah dinding, tepat di titik pertemuan dengan lantai. Fungsinya beragam, mulai dari melindungi dinding dari gesekan alat kebersihan hingga benturan kaki furniture. Skirting juga bisa menutup celah antara lantai dan dinding agar tampilan ruangan terlihat lebih rapi. Dari sisi estetika, skirting sering menjadi elemen dekoratif yang menonjol. Elemen ini bisa dibuat dengan profil tinggi hingga sekitar 15 cm, dihiasi bentuk lekukan atau ukiran.

Perbedaan Plinth dan Skirting

Kalau kamu memperhatikan detail-detail kecil di rumah atau bangunan publik, elemen seperti plinth dan skirting sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keutuhan visual dan fungsional ruangan. Keduanya mungkin tampak sepele, tapi keberadaannya membantu menciptakan kesan akhir yang bersih, teratur, dan profesional. Supaya kamu bisa membedakannya, pahami aspek-aspek berikut ini:

1. Asal Penggunaan

Secara historis, istilah skirting lebih dikenal di ranah desain interior Eropa dan Amerika. Sementara itu, plinth berasal dari terminologi arsitektur klasik yang biasa digunakan dalam dunia teknik sipil maupun konstruksi bangunan.

Di Indonesia sendiri, kedua istilah ini sering dipakai secara bergantian. Namun, dalam praktik profesional, arsitek umumnya menggunakan istilah “plint” ketika merujuk pada bagian dasar struktur dinding atau bangunan. Sedangkan desainer interior lebih memilih kata “skirting” untuk menekankan aspek dekoratif dan estetika ruang.

2.  Material yang Digunakan

Skirting umumnya dibuat dari bahan yang ringan dan estetis, seperti kayu solid, MDF, PVC, UPVC, hingga aluminium dengan lapisan warna. Bahan-bahan ini memberikan fleksibilitas desain sekaligus tampilan yang menarik. Berdasarkan material ini, skirting cocok untuk area yang ingin tampil hangat dan nyaman.

Sebaliknya, plinth biasanya menggunakan material yang lebih kuat dan tahan lama. Contohnya beton pracetak, keramik, granit, batu alam, atau bahkan acian dinding yang dibuat menonjol. Karena sifatnya yang tahan kelembapan, plinth sering dijumpai di dapur, kamar mandi, atau ruang servis. Plinth lebih cocok untuk ruangan yang memerlukan daya tahan tinggi.

3. Kegunaan

Kegunaan

Secara fungsi, skirting memiliki peran ganda antara perlindungan dan estetika. Elemen ini membantu menjaga dinding dari debu serta gesekan alat kebersihan atau furniture, sekaligus memberi sentuhan visual yang menyatukan desain ruangan. Dalam desain modern, skirting bahkan dapat menjadi elemen yang mengarahkan pandangan, menciptakan garis horizontal yang memperkuat proporsi ruang.

Sementara itu, plinth berperan lebih teknis. Elemen ini berfungsi sebagai batas fisik yang kokoh antara lantai dan dinding. Sifatnya tahan benturan dan mudah dibersihkan. Di beberapa bangunan, plinth merupakan bagian dari struktur dinding itu sendiri, bukan sekadar elemen tambahan.

4. Desain dan Tampilan Visual

Dari sisi tampilan, skirting cenderung lebih dekoratif. Ada banyak pilihan desain, mulai dari yang bermotif kayu hingga yang memiliki detail ukiran atau lapisan glossy. Di rumah bergaya klasik atau kolonial, skirting bahkan menjadi elemen visual yang memperkuat karakter interior.

Berbeda dengan itu, plinth tampilannya lebih sederhana dan fungsional. Elemen ini bisa dibuat sejajar dengan dinding atau menonjol sedikit dari permukaannya. Dalam desain kontemporer, plinth sering dibuat invisible atau menyatu dengan warna dinding agar hasil akhirnya tampak bersih dan tanpa batas.

5. Proses Pemasangan

Skirting biasanya dipasang setelah lantai selesai difinishing. Proses pemasangannya cukup mudah. Kamu bisa menggunakan lem, paku tembak, atau sekrup. Skirting juga relatif fleksibel jika kamu ingin mengganti model di kemudian hari.

Di sisi lain, plinth memerlukan perencanaan sejak tahap konstruksi. Bahan seperti beton atau keramik umumnya dipasang bersamaan dengan pengerjaan lantai atau dinding. Hal ini dimaksudkan agar plinth bisa menyatu secara struktural.

6. Perawatan dan Ketahanan

Dalam hal perawatan, skirting membutuhkan perhatian ekstra, terutama bila terbuat dari kayu atau MDF yang rentan terhadap air. Kelebihannya, elemen ini mudah dicat ulang atau diganti ketika rusak. Sementara itu, plinth memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap kelembapan dan benturan. Namun, jika mengalami keretakan, proses perbaikannya lebih kompleks karena menyatu dengan dinding atau lantai.

7. Harga dan Efisiensi Biaya

Dari segi biaya, skirting memiliki rentang harga yang cukup bervariasi tergantung bahan dan desain. Skirting kayu solid biasanya lebih mahal dibandingkan model berbahan PVC. Sedangkan plinth, meski bahan dasarnya bisa lebih ekonomis, memerlukan biaya tambahan untuk pemasangan yang presisi atau perawatan jangka panjang jika terjadi kerusakan struktural.

Apakah Plinth Dibutuhkan?

Apakah Plinth Dibutuhkan?

Dalam desain interior modern, penggunaan plinth block sebenarnya bersifat opsional. Elemen ini tidak selalu menjadi bagian wajib dari sebuah ruangan. Kecuali kamu menemukan celah atau ketidaksempurnaan pada sambungan antara papan skirting, kusen pintu (architrave), dan lantai. Banyak rumah hunian cukup mengandalkan dua elemen utama yakni skirting dan architrave tanpa tambahan plinth. Namun, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa plinth block mulai kembali diminati, terutama pada rumah bergaya klasik atau tradisional yang menonjolkan detail ornamen di setiap sudut ruangan.

Bagi kamu yang ingin menambah kesan mewah dan berkarakter pada area pintu atau lantai, plinth bisa menjadi pilihan yang menarik. Elemen ini bekerja sebagai pemisah visual yang memperkuat tampilan skirting dan architrave, sekaligus memberi kesan elegan yang sulit diabaikan. Selain fungsional, plinth juga berperan sebagai aksen desain yang menyempurnakan tampilan keseluruhan interior.

Secara praktis, plinth membantu mengatasi masalah teknis yang sering muncul, Misalnya karenaa variasi tinggi lantai, potongan bahan yang kurang presisi, atau perubahan bentuk material karena penyusutan dan pemuaian. Architrave tidak bisa diturunkan begitu saja hingga menyentuh lantai, karena hal tersebut akan mengubah proporsi visualnya.

Nah, di titik inilah plinth block berperan. Elemen ini menjembatani celah di antara architrave dan lantai, sehingga tercipta transisi yang halus sekaligus menutup area yang tidak rapi. Hasilnya, ruangan tampak lebih utuh, proporsional, dan memiliki kesan akhir yang profesional.

Pekerja dan Pembelajar Intelektual Penulis Artikel, Buku, Skenario Film, dan segala turunannya Konten Kreator Tiktok, Youtube, Meta, dan lainnya "Kalaui kerja sekedar kerja, Kera pun kerja" - Buya Hamka