Perbedaan Tegangan Rendah, Menengah,  dan Tinggi pada Sistem Listrik
Perbedaan Tegangan Rendah, Menengah,  dan Tinggi pada Sistem Listrik

Perbedaan Tegangan Rendah, Menengah,  dan Tinggi pada Sistem Listrik

Kamu mungkin sering mendengar istilah “tegangan” saat membahas hal-hal yang berkaitan dengan listrik. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini sering disebut sebagai “setrum”. Jadi, ketika kamu merasakan setrum, sebenarnya kamu sedang berhadapan dengan aliran tegangan listrik yang mengalir melalui tubuh. -MegaBaja.co.id

Listrik punya peran besar dalam menggerakkan dunia modern. Contoh sederhananya, ketika kamu menyalakan ponsel atau mengoperasikan mesin besar di pabrik. Nah, dorongan yang membuat listrik bisa mengalir itu disebut tegangan. Untuk menjaga agar sistem kelistrikan tetap aman dan efisien, arus listrik dibagi berdasarkan tingkat tegangannya. Memahami pembagian ini akan membantumu mengenal bagaimana aliran listrik bergerak dari pembangkit hingga sampai ke rumah atau tempat kerja.

Mengenal Tegangan Listrik

Mengenal Tegangan Listrik

Dalam dunia teknik elektro, tegangan merupakan konsep dasar yang menentukan cara kerja berbagai perangkat listrik, baik yang kamu gunakan setiap hari maupun yang digunakan dalam skala industri. Secara umum, tegangan listrik dibagi tiga yakni tegangan rendah (low voltage), tegangan menengah (medium voltage), dan tegangan tinggi (high voltage).

Lalu, kenapa tegangan perlu diklasifikasikan ke dalam tiga kategori tersebut? Alasannya sederhana, yaitu demi keselamatan dan efisiensi. Pembagian ini membantu mencegah risiko bahaya listrik serta memastikan energi bisa disalurkan dengan tepat tanpa banyak terbuang. Dengan begitu, baik insinyur maupun teknisi bisa merancang dan memelihara sistem kelistrikan yang aman, efisien, dan sesuai standar.

Apa Itu Tegangan Rendah (Low Voltage)?

Tegangan rendah, atau Low Voltage (LV), adalah tingkat tegangan listrik yang berada di kisaran 50 hingga 1.000 volt (1 kV). Jenis tegangan ini adalah yang paling sering kamu temui dalam kehidupan sehari-hari, karena digunakan pada berbagai fasilitas seperti rumah, sekolah, hingga perkantoran. Kabel yang digunakan pun harus mampu menyalurkan daya dalam rentang tegangan tersebut agar tetap aman dan berfungsi optimal.

Contoh paling dekat denganmu adalah listrik di rumah. Stopkontak standar biasanya memiliki tegangan sekitar 220 volt, digunakan untuk menyalakan lampu, TV, laptop, dan perangkat elektronik lainnya. Peralatan berdaya besar, seperti kompor listrik, AC, atau mesin cuci, menggunakan sirkuit sekitar 240 volt, yang juga termasuk dalam kategori tegangan rendah.

Meski disebut “rendah”, bukan berarti bisa disepelekan. Tegangan jenis ini tetap berpotensi menimbulkan bahaya bila tidak ditangani dengan benar. Karena itu, sistem kelistrikan rumah dan bangunan kecil dirancang dengan berbagai lapisan perlindungan. Misalnya, panel listrik dilengkapi pemutus arus otomatis yang akan mematikan aliran listrik saat terjadi korsleting atau beban berlebih. Selain itu, stopkontak modern biasanya sudah dibumikan untuk mengalirkan kelebihan arus dengan aman.

Singkatnya, tegangan rendah adalah bentuk energi listrik yang menghidupkan rutinitas sehari-hari kita. Tegangan ini merupakan tahap terakhir dalam proses distribusi listrik dari trafo menuju konsumen akhir. Karena sudah melalui proses penurunan tegangan, listrik yang sampai ke rumahmu aman untuk digunakan, asalkan instalasinya sesuai standar keselamatan.

Apa Itu Tegangan Menengah (Medium Voltage)?

Tegangan menengah, atau Medium Voltage (MV), berada pada rentang 1.000 volt (1 kV) hingga 36.000 volt (36 kV). Jenis tegangan ini menempati posisi di tengah antara jaringan bertegangan tinggi dan rendah. Perannya penting dalam proses distribusi daya dari gardu induk menuju berbagai kawasan industri, komersial, maupun permukiman besar.

Jika diibaratkan, tegangan menengah seperti jalan raya bagi listrik. Tipe ini menjadi jalur utama yang menyalurkan energi dalam jumlah besar dari pusat distribusi menuju area pengguna. Dari sinilah, listrik kemudian diturunkan lagi melalui trafo distribusi agar aman digunakan di rumah-rumah dan bangunan kecil.

Di Indonesia, sistem tegangan menengah umumnya beroperasi di angka 20 kV. Tegangan ini terlalu kuat untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi sangat ideal untuk mengalirkan energi dalam jarak menengah. Misalnya untuk menyuplai daya ke pabrik, kawasan industri, atau seluruh blok pemukiman. Beberapa fungsi utama dari sistem tegangan menengah:

1. Menyalurkan Listrik ke Lingkungan Sekitar

Menyalurkan Listrik ke Lingkungan Sekitar

Kabel bertegangan menengah biasanya terpasang di atas tiang listrik atau tertanam di bawah tanah. Dari gardu induk lokal, listrik dialirkan menuju area tertentu, lalu diturunkan menjadi tegangan rendah melalui trafo. Ini adalah alat berupa kotak hijau di dekat perumahan atau bangunan publik.

2. Menggerakkan Mesin Berat di Industri

Pabrik, tambang, dan fasilitas pengolahan besar mengandalkan tegangan menengah untuk mengoperasikan motor industri, pompa besar, hingga kompresor Berbagai mesin berkapasitas tinggi juga menggunakan tegangan menengah. Arus tegangan rendah tidak akan mampu menopang kebutuhan daya sebesar ini.

3. Mendukung Energi Terbarukan

Pada sistem tenaga surya atau turbin angin berkapasitas besar, listrik yang dihasilkan akan dinaikkan terlebih dahulu ke tingkat tegangan menengah. Langkah ini membantu proses penyaluran daya menuju jaringan listrik utama. Dengan cara ini, energi bisa disalurkan lebih efisien tanpa banyak kehilangan daya.

4. Menyalurkan Daya untuk Area Luas

Kawasan seperti rumah sakit, universitas, atau kompleks industri umumnya memiliki gardu induk sendiri yang menerima tegangan tinggi. Kemudian, tegangan tersebut diturunkan ke tegangan menengah. Hal ini dilakukan agar bisa didistribusikan ke berbagai bangunan dan peralatan besar di area tersebut.

Karena daya yang dialirkan sangat besar, sistem tegangan menengah hanya boleh dikerjakan oleh tenaga profesional yang berpengalaman. Risiko seperti arc flash atau semburan energi akibat loncatan listrik bisa menimbulkan luka bakar serius bahkan dari jarak tertentu.

Apa Itu Tegangan Tinggi (High Voltage)?

Tegangan tinggi, atau High Voltage (HV), berada pada kisaran 36 kV hingga 150.000 volt (150 kV). Sistem dengan tingkat tegangan seperti ini menggunakan kabel khusus yang dirancang agar mampu menahan tekanan listrik tinggi tanpa mengalami gangguan atau kehilangan energi yang signifikan.

Kamu mungkin sering melihat menara-menara logam besar yang berjajar di sepanjang jalur pedesaan atau perbukitan. Nah, itulah bagian dari sistem tegangan tinggi. Jaringan ini berfungsi sebagai jalur utama untuk mengirimkan energi listrik dari pembangkit menuju berbagai wilayah, bahkan hingga ratusan kilometer jauhnya. Tanpa sistem ini, listrik dari pembangkit tidak akan bisa mencapai kota dan kawasan industri secara efisien.

Apa Itu Tegangan Tinggi (High Voltage)?

Di Indonesia, tegangan di atas 35 kV sudah termasuk dalam kategori tegangan tinggi. Contohnya, sistem dengan 70 kV dan 150 kV. Ini digunakan untuk transmisi daya antar kota, antar provinsi, hingga proyek besar seperti smelter, kawasan industri, dan data center.

Di atasnya, terdapat kategori Extra High Voltage (EHV), yaitu tegangan antara 230 kV sampai 765 kV. Daya ini digunakan untuk mentransfer energi dalam skala nasional. Sistem ini biasanya diterapkan pada jaringan transmisi utama dengan menara baja berukuran besar dan infrastruktur pembangkit berskala masif.

Namun, bekerja dengan sistem tegangan tinggi bukanlah hal sederhana. Arus listrik pada level ini memiliki kemampuan meloncat beberapa meter di udara untuk mencari jalur ke tanah. Risiko tersengat bisa terjadi bahkan tanpa kontak langsung dengan kabel. Karena itu, perawatan dan perbaikan jaringan tegangan tinggi hanya dilakukan oleh tenaga profesional terlatih, sering kali menggunakan helikopter atau truk dengan peralatan berinsulasi khusus. Kesimpulannya, tegangan tinggi berperan mengirimkan daya ke wilayah luas, tegangan menengah mendistribusikannya di sekitar kota, dan tegangan rendah menjadi energi yang kamu gunakan sehari-hari di rumah atau tempat kerja.

Pekerja dan Pembelajar Intelektual Penulis Artikel, Buku, Skenario Film, dan segala turunannya Konten Kreator Tiktok, Youtube, Meta, dan lainnya "Kalaui kerja sekedar kerja, Kera pun kerja" - Buya Hamka